Ketika tabrakan besar komet dan asteroid memusnahkan kehidupan pertama di Bumi, maka dalam waktu singkat kehidupan lain pun muncul.
Gambar 1 : Impresi seniman atas pendaratan Rosetta di Komet 67P/Churyumov–Gerasimenko. Gambar ini tidak dalam skala. (Kredit: ESA/NASA)
Pernahkah
terbersit pertanyaan-pertanyaan ini dalam benak kita? Dari mana kita
berasal? Apakah kita sendirian di alam semesta? Inilah pertanyaan yang
tak kunjung berhenti dilontarkan. Pertanyaan dan misteri inilah yang
membawa manusia membangun mimpi menemukan kawan yang lain di alam
semesta ini. Atau setidaknya menelusuri kembali jejak sejarah kehidupan
manusia di Bumi.
Pertanyaan itu jugalah yang membawa manusia
menelusuri kembali jejak masa lalu Tata Surya. Tujuannya satu:
menelusuri dari mana kehidupan di Bumi berasal. Dari mana air yang
menjadi kunci kehidupan di Bumi bisa hadir. Bagaimana Bumi bisa memiliki
komposisi air yang sedemikian banyak sehingga mampu mempertahankan
kehidupan?
Jawaban pertama, Bumi bisa memiliki air dalam wujud
cair karena ia berada di zona laik huni Matahari. Tapi dari mana
datangnya air itu? Berbagai teori dikemukakan, dan salah satunya adalah
air di Bumi diyakini dibawa oleh komet.
Gambar 2 : Komet ISON hasil jepretan astrofotografer Adam Block.
Kehidupan
di Bumi dimulai di akhir periode tabrakan besar, sekitar 3,8 milyar
tahun yang lalu. Sebelum periode tabrakan tersebut, Bumi diserbu oleh
puing-puing antarplanet yang menjadi materi pembentukan planet cikal
bakal rumah manusia ini. Akibat dari serbuan puing-puing antar planet
tersebut, proto-Bumi menjadi sangat panas sehingga tidak mungkin
kehidupan bisa tebrnetuk di dalamnya. Disinilah, asteroid dan komet
memainkan peran pentingnya.
Tabrakan besar dari asteroid dan komet
mengubah jalannya sejarah Bumi dari planet yang sangat panas menjadi
planet laik huni. Serbuan komet di masa awal pembentukan Bumi menjadi
kunci kehadiran air di Bumi. Yup! Air dan molekul organik yang menjadi
dasar bagi tumbuh kembang kehidupan di Bumi dihantarkan lewat serbuan
komet-komet di masa itu.
Selama periode tabrakan besar asteroid
dan komet, lautan yang ada di Bumi menguap dan molekul berbasis karbon
yang jadi dasar kehidupan di Bumi kala itu sangat rapuh sehingga tidak
dapat bertahan. Setelah itu, kehidupan awal yang mungkin terbentuk di
Bumi pun musnah. Tapi di akhir periode tabrakan besar, kehidupan muncul!
Buktinya adalah fosil paling tua yang ditemukan di Bumi usianya 3,5
miliar tahun. Fosil mikroba yang ditemukan di Australia tersebut
diyakini menjadi bukti keberadaan awal kehidupan di Bumi yang kemudian
berkembang dan berevolusi.
Tapi, bagaimana mungkin kehidupan awal Bumi yang rapuh itu berakhir
ketika tabrakan besar terjadi, dan ada kehidupan baru yang muncul di
akhir periode tabrakan besar? Artinya, dalam periode yang sangat singkat
kehidupan bisa bertumbuh, berkembang dan bertahan di Bumi. Kehidupan
yang kemudian berevolusi menjadi kehidupan kompleks di Bumi.
Sebelum
periode tabrakan besar, Bumi hanya memliki sedikit air dan molekul
berbasis karbon di permukaannya. Nah, bagaimana mungkin dalam waktu
singkat bisa ada kehidupan baru? Jawabannya berada pada tabrakan besar
itu sendiri.
Komet yang bertubi-tubi menghantam Bumi itulah yang
menghantarkan air dan molekul organik untuk membentuk kehidupan.
Artinya, komet disusun oleh air es, debu dan molekul organik yang
berlimpah dari sisa pembentukan Tata Surya 4,6 milyar tahun lalu. Dan
mereka tersimpan abadi di tepi luar Tata Surya yang jauh dari Matahari
sehingga kondisinya cukup beku untuk terus bertahan apa adanya.
Gambar 3: Di sebuah ruang bersih NASA, ilmuwan meneliti perangkap berisi debu yang ditangkap wahana Stardust saat terbang melewati komet Wild 2.Lebih lengkap mengenai penelitian debu komet ini dan hubungannya dengan awal semesta manusia dalam NGI Agustus 2013. (Mark Thiessen)
Jadi,
ketika tabrakan besar komet dan asteroid memusnahkan kehidupan pertama
di Bumi, maka dalam waktu singkat kehidupan lain pun muncul. Dan
diyakini tabrakan komet 65 juta tahun lalu juga memusnahkan lebih dari
75% kehidupan di Bumi termasuk dinosaurus. Tabrakan itu menyisakan
kehidupan yang dapat bertahan dan berevolusi menjadi seperti yang ada
saat ini. Pada akhirnya, komet tampaknya memiliki dualisme yang menarik.
Menghancurkan kehidupan tapi kemudian membangun kehidupan baru dan pada
akhirnya hanya yang dapat beradaptasilah yang terus bertahan.
Komet
memang menghadirkan air dan molekul kehidupan di Bumi. Tapi keberadaan
Bumi juga membantu keberlangsungan evolusi kehidupan tersebut. Lokasi
Bumi di zona laik huni Matahari yang hangat menjadi alasan lain
kehidupan bisa terus bertahan dan berkembang. Tanpa itu, kehidupan akan
mati menyisakan Bumi sebagai planet kosong tak berpenghuni. Jika Bumi
terlalu panas, nasibnya mungkin tak beda jauh dengan Venus, atau mungkin
jadi seperti Mars yang berada di tepi luar zona laik huni Matahari.
Gersnag dan berdebu.
Gambar 4 : Ilustrasi komet. (thinkstockphoto)
Untuk
dapat mengetahui komposisi awal terbentuknya planet-planet maka para
astronom pun mempelajari komposisi komet. Diharapkan, para astronom
dapat menelusuri jejak masa lalu Bumi dan juga planet-planet di Tata
Surya serta dapat mengetahui bagaimana kehidupan berawal. Dengan
informasi inilah, para astronom akan mencari Bumi lain di sistem
ekstrasolar yang sudah menghadirkan ribuan planet untuk ditelaah dan
setidaknya ada sekitar 21 planet yang diyakini memiliki potensi
kehidupan. Akankah kehidupan di planet-planet tersebut memiliki
kemungkinan untuk bertumbuh dan berkembang dan akankah kehidupan itu pun
berasal dari tabrakan komet di sistem masing-masing planet tersebut?
Itulah pertanyaan yang masih harus ditelusuri jawabannya.
Komet,
benda kecil yang berada jauh di tepi luar Tata Surya bahkan dianggap
sebagai pertanda datangnya bencana bagi manusia di Bumi. Tapi, benda
kecil yang isinya hanya es dan debu ini menyimpan bumbu dan bahan yang
membentuk Tata Surya. Komet adalah saksi sejarah yang tak lekang oleh
waktu. Meskipun bentuknya, warnanya tak tampak menarik, bahkan sulit
untuk bisa diamati, namun benda kecil inilah kunci cerita tentang
pembentukan planet-planet di Tata Surya dan juga di bintang lain.
Sumber : langitselatan.com







4 komentar:
Menurut saya artikelnya bagus dan mudah dipahami. Terima kasih :)
Artikelnya menarik, sangat membantu menambah wawasan baru tentang sejarah kehidupan di Bumi :)
Artikelnya bagus dan menarik,,
Trimakasih infonya..
informasi tentang astronomi memang selalu menarik ya? terimakasih, ditunggu postingan selanjutnya
Posting Komentar