RSS

HOME

Tampilkan postingan dengan label sains dan teknologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sains dan teknologi. Tampilkan semua postingan

Fusi Nuklir, Energi Murah Masa Depan

Fusi nuklir berkelanjutan diharap bisa sediakan energi murah masa depan.

Fusi Nuklir, Energi Murah Masa Depan
Tampilan dari fusi nuklir di Museum Houston, AS. Kajian mendapati, pada masa depan fusi nuklir bisa menggantikan ketergantungan dunia pada bahan bakar fosil. Sumber :(VOA)

 
Ilmuwan di Amerika dan Eropa tengah bereksperimen dengan dua jenis reaktor fusi nuklir yang diharapkan di masa mendatang bisa menyediakan energi yang murah dan berlimpah dan akhirnya melepaskan ketergantungan dunia pada bahan bakar fosil.
Raksasa teknologi Amerika, Lockheed Martin, mengklaim akan memiliki reaktor fusi dalam waktu lima tahun. Kini para ilmuwan dari University of Washington mengatakan mereka juga sedang berupaya menciptakan fusi nuklir yang berkelanjutan.
Untuk diketahui, fusi nuklir tidak sepenuhnya aman, tapi jauh lebih aman dari pada reaktor fusi yang sekarang digunakan untuk membangkitkan listrik.
“Reaktor fusi tidak bisa meledak, bahan bakarnya tidak radioaktif untuk jangka panjang dan bisa menjadi sumber energi yang tidak terbatas,” kata Thomas Jarboe profesor fisika dari Universitas Washington.
“Tidak meninggalkan polusi di bumi, tidak ada bekas, tidak ada limbah radioaktif atau gas rumah kaca. Pada dasarnya fusi nuklir adalah sumber energi yang ideal,” kata Profesor Jarboe.
Fusi nuklir tak sepenuhnya aman, tapi jauh lebih aman dari pada reaktor fusi yang sekarang digunakan.
Tapi memulai proses fusi memerlukan kondisi yang hampir sama dengan permukaan matahari tapi pada ruang yang tertutup.
Begitu fusi dimulai, maka reaktor akan menghasilkan panas dalam jumlah besar untuk menciptakan uap dan menjalankan turbin generator listrik.
Para ilmuwan pun bereksperimen dengan beberapa metode untuk memulai fusi.
Salah satunya adalah ‘tokamak’ yang  sedang dibangun di Perancis yang akan menggunakan magnet yang sangat kuat untuk melekatkan plasma yang sangat panas tetap berada ditempatnya.
Tapi profesor Jarboe dan timnya sedang mengupayakan pendekatan yang berbeda, memasukkan arus listrik ke plasma itu sendiri untuk menciptakan ruang magnetik yang kuat.
”Apa yang kami temukan adalah cara untuk mempertahankan arus listrik jauh lebih efisien dari pada metode yang sekarang digunakan pada tokamaks,” kata Derek Sunderland, seorang peneliti.
Profesor Jarboe mengatakan membangun reaktor ukuran sebenarnya yang disebut ‘dynomak’ memerlukan lebih sedikit bahan dari pada reaktor tokamak.
“Itu akan memungkinkan pembuatan reaktor yang lebih murah karena tidak memerlukan banyak dinding, dan lebih sedikit kumparan yang perlu ditutup,” kata Thomas Jarbo.
(Sumber: VOA INDONESIA)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ilmuwan Australia Pecahkan Rekor Energi Matahari

Tingkat efisiensinya 40 persen dalam konversi sinar matahari menjadi energi listrik.

Ilmuwan Australia Pecahkan Rekor Energi MatahariGambar : Panel Surya yang bisa memindahkan 40 persen sinar matahari menjadi energi listrik

Ilmuwan Australia berhasil memecahkan rekor baru energi matahari, dengan membuat panel surya yang bisa memindahkan 40 persen sinar matahari menjadi energi listrik. Penemuan yang dilakukan oleh University of New South Wales digambarkan sebagai yang pertama kali berhasil dilakukan di dunia.
"Ini adalah tingkat efisiensi tertinggi yang pernah dilaporkan dalam konversi sinar matahari menjadi energi listrik," kata Profesor Martin Green dari UNSW, dalam pernyataan tertulis.
"Kami menggunakan sel solar komersial, namun dalam cara baru. Jadi peningkatan efisiensi ini akan seegra bisa digunakan oleh kalangan industri panel surya," tambah Dr. Mark Keevers, ilmuwan UNSW yang mengelola proyek tersebut.
Dalam proses sebelumnya, biasanya hanya digunakan satu sel solar dimana konversi dari sinar matahari menjadi listrik adalah sekitar 33 persen. Teknologi terbaru adalah membagi sinar matahari ini ke dalam empat sel berbeda, sehingga setiap sel bisa menerima sinar matahari lebih banyak. Menurut UNSW, tingkat efisiensi ini dicapai dalam uji coba di Sydney dan sudah juga dibuktikan di Laboratorium Energi Terbarukan Milik pemerintah Amerika Serikat.
Profesor Green mengharapkan teknologi baru ini diharapkan nantinya bisa digunakan dalam panel surya yang dipasang di atap rumah pribadi, yang sekarang ini tingkat efisiensinya berkisar baru antara 15 – 18 persen.
"Panel yang ada di atap rumah sekarang ini, hanya berisi sel tunggal, namun nantinya akan berisi beberapa sel berbeda. Dengan begitu, efisiensinya juga akan meningkat," tambah Green.
(Sumber: ABC)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS