Kisah ini dimulai dari kelahiran bintang yang kita kenal dengan nama Matahari, 4,6 miliar tahun lalu.
Gambar 1 : Ilustrasi. (Thinkstockphoto)
Kisah ini dimulai dari kelahiran bintang yang kita kenal dengan nama Matahari, 4,6 miliar tahun lalu.
Sejak
dahulu, di galaksi Bima Sakti terdapat banyak sekali awan molekul
berukuran raksasa dengan massa 105 – 106 massa Matahari dengan awan
molekul yang paling kecil berukuran 0,1 – 10 massa Matahari. Awan
molekul ini didominasi oleh Hidrogen dan Helium dan diikuti unsur
lainnya seperti Karbon, Nitrogen dan Silikat dengan jumlah yang sangat
sedikit.
Pada awalnya awan molekul dalam kondisi yang stabil tapi
bisa runtuh jika ada gangguan yang menyebabkan terjadinya
ketidakstabilan.
Suatu hari, datanglah gelombang kejut dari
ledakan mahadahsyat bintang yang ada di dekatnya. Akibatnya, partikel
gas dan debu membentuk awan sferis yang rapat dan mampat. Awan pun
mengalami keruntuhan, dimulai dari akumulasi materi ke inti. Semakin
banyak materi yang ditarik ke inti, gravitasi pun semakin meningkat.
Selama keruntuhan/pengerutan terjadi, inti berotasi semakin cepat dan
temperatur pun meningkat.
Pada akhirnya inti memiliki energi yang
cukup untuk memulai reaksi pembakaran hidrogen menjadi helium. Maka
dimulailah reaksi nuklir yang melepaskan energi sangat besar. Inilah
proses kelahiran bintang yang kita kenal sebagai Matahari dengan massa
99.8% dari massa awan.
Gambar 2 :Foto
ini menampilkan Jupiter dan Ganymede, bulan terbesar di Tata Surya.
Ganymede tiga kali lebih besar dari Bulan dan bahkan lebih besar dari
planet Merkurius. (NAOJ/JAXA/Tohoku University)
Nah, bagaimana dengan pembentukan planet-planet?
Tidak
semua materi di awan molekul membentuk Matahari. Masih ada sisa debu
dan gas yang membentuk piringan di sekeliling Matahari, sehingga kalau
dilihat akan tampak seperti sebuah piringan dengan bola gas raksasa yang
berpijar di tengahnya. Partikel-partikel yang ada di piringan diisi
oleh 75% hidrogen, 25% helium, dan 2% elemen lainnya. Mereka bergerak
dalam orbit lingkaran mengelilingi Matahari.
Meskipun temperatur
di area inti meningkat tajam, akan tetapi semakin jauh dari inti
temperatur pun semakin rendah. Karena itu, materi yang berada di area
inti akan dengan mudah menguap, sedangkan gas di area yang jauh dan
dingin akan tetap berada dalam kondisi gas.
Gambar 3 : Ilustrasi planet (Thinkstockphoto)
Materi di dalam piringan kemudian berkondensasi membentuk butiran padat maupun cair. Butiran yang terbentuk di dekat Matahari merupakan butiran padat termasuk di dalamnya senyawa alumunium, titanium, besi, nikel, dan silikat.
Di pinggiran piringan, temperatur cukup rendah sehingga
molekul hidrogen berkondensasi membentuk es dari air es, metana beku,
dan amonia beku. Perbedaan temperatur antara area di dekat bintang dan
area yang jauh dari bintang menjadi kunci perbedaan dari planet yang
nantinya terbentuk.
Partikel di dalam piringan saling
berinteraksi dan bergabung membentuk butiran berukuran mikroskopik yang
sangat kecil. Masa pembentukan planet adalah masa yang keras dan kejam.
Bagaimana tidak! Butiran-butiran yang ada di piringan bergerak dan
bertabrakan dengan butiran lainnya. Hasilnya butiran-butiran tersebut
kemudian bergabung membentuk partikel yang lebih besar dan lebih padat.
Tabrakan antar partikel terus terjadi dan partikel-partikel kemudian
membentuk planet kecil atau planetesimal.
Proses penggabungan ini terus terjadi dan planetesimal terus
bertumbuh semakin besar yang kemudian dikenal sebagai protoplanet aka
cikal bakal planet. Protoplanet dalam interaksinya menarik planetesimal
dengan komposisi yang mirip untuk bergabung dan membentuk planet.
Karena
semakin jauh temperaturs semakin rendah, maka di dekat Matahari,
planetesimal yang terbentuk berupa batuan dan logam karena gas sudah
pasti menguap. Dan terbentuklah planet batuan seperti Merkurius, Venus,
Bumi, dan Mars.
Semakin jauh, selain dari batu dan logam,
planetesimal juga terbentuk dari serpihan es. Interaksi antara
planetesimal yang disusun oleh batu, logam dan serpihan es dengan
planetesimal lain membentuk inti planet raksasa. Inti yang terbentuk
sangat besar dan mampu menangkap gas hidrogen dan helium untuk membentuk
atmosfer yang sangat tebal. Pada akhirnya terbentuklah planet raksasa
yang kaya hidrogen dan helium dengan inti batuan yang mampat.
Kalau
kita menjelajah semakin jauh ke bagia luar piringan, maka kondisinya
pun semakin dingin. Sangat dingin karena temperatur semakin rendah. Di
area terluar nan dingin itu, masih ada planetesimal es yang tetap
bertahan dan membentuk benda-benda kecil berukuran beberapa kilometer.
Benda-benda kecil tersebut dikenal sebagai benda di Sabuk Kuiper.
Beberapa obyek di sabuk Kuiper memiliki ukuran cukup besar seperti
Pluto, Makemake, Sedna, Eris yang kemudian digolongkan sebagai planet
kerdil karena tidak mampu "membersihkan" area di sekelilingnya dari
planetesimal lainnya. Jadi kalau obyek-obyek ini merupakan sebuah
planet, maka gravitasinya cukup untuk menarik obyek lain di
sekelilingnya untuk bergabung atau melontarkannya ke luar Tata Surya.
Sementara
itu, area di antara Mars dan Jupiter diisi oleh benda-benda kecil
lainnya yang dikenal sebagai sabuk asteroid. Di area ini, kumpulan
planetesimal batuan berukuran beberapa meter sampai dengan 1000 km
bergerak mengelilingi Matahari. Planetesimal di area ini merupakan sisa
pembentukan Tata Surya yang tidak berhasil berkoalisi membentuk planet
karena gangguan gravitasi dari Jupiter.
Gambar 4 : Europa ketahuan menyemburkan uap air mencapai ketinggian lebih dari Everest. (Southwest Research Institute)
Satelit Alam dan Cincin Planet Raksasa
Planet-planet
di Tata Surya diketahui memiliki pengiring atau satelit alam. Untuk
planet raksasa, satelit alam diyakini terbentuk lewat proses hampir
serupa dengan kelahiran planet. Pada masa awal pembentukan planet
raksasa, terdapat sejumlah besar gas di sekeliling planet yang kemudian
berinteraksi membentuk satelit-satelit di sekeliling sang planet.
Untuk
Mars, satelit pengiringnya terbentuk di tempat lain dan kemudian
ditangkap oleh Mars untuk mengitarinya. Sedangkan pengiring Bumi, Bulan,
terbentuk lewat tabrakan Bumi dengan sebuah benda yang diduga sebesar
Mars dan kemudian sisa tabrakan itulah yang menjadi Bulan yang
mengelilingi Bumi. Sementara planet terdekat dengan Matahari yakni
Merkurius dan Venus tidak memiliki satelit, karena jika ada satlit di
sana maka satelit itu tidak dapat bertahan.
Gambar 5 : Diambil
dengan WAC (Wide Angle Camera) dari Mercury Dual Imaging System pada
pesawat Messenger yang mengorbit Merkurius, Selasa (24/5), foto
hitam-putih ini menampilkan belahan Merkurius sebelah selatan. Tidak
seperti Bumi, Merkurius memiliki kemiringan aksial hanya 0,02 derajat,
terkecil di seluruh Tata Surya. Hasilnya, tidak ada musim di Merkurius. (NASA/Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory/Carnegi)
Dalam proses pembentukan seluruh planet di Tata Surya, ketika planet
raksasa sudah terbentuk, maka planetesimal yang bergerak dekat dengan
planet akan dikoyakkan oleh gravitasi dan pecahan-pecahannya kemudian
terperangkap mengorbit planet raksasa sebagai cincin. Sejauh
ini demikianlah yang kita pahami tentang sejarah Tata Surya tempat
tinggal kita. Penemuan-penemuan detil-detil lain di Tata Surya maupun di
sistem keplanetan lain akan semakin memperkaya pemahaman kita.
Sumber : Pengembara Angkasa/langitselatan.com







10 komentar:
materi yang menarik... mungkin ada animasi tentang planet-plenet, galaksi dan antariksa
Artikelnya bagus bisa menambah bahan referensi saya, makasih kak infonya :D
Informasi tentang terbentuknya tatasurya dan seisinya memang selalu menarik perhatian bagi para pembaca. bagus sekali artikelnya, mungkin bisa juga dijadikan sebagai sumber belajar siswa.
nice post :) topiknya menarik karena selalu ada keingintahuan yang besar untuk materi tata surya ini.
dan bener banget, bisa jadi sumber belajar siswa. makasih
informasi yang menarik, saran saja untuk mengatur tampilan teks dibuat rata agar lebih bagus tampilannya , terima kasih
artikel anda baik, menarik, dan terimakasih atas postingannya...
keren gan artikelnya.. keep update yaa
bagus artikelnya kak
menambah wawsan saya,,,
terimakasih kak :)
Atikelnya menarik teman.... Udah keren....
Terimkasih ya buat infonya:)
Artikelnya menarik sekali, bisa dijadikan referensi. Terima kasih postingannya :-)
Posting Komentar