RSS

HOME

Bagaimana Cara Cumi-Cumi Terbang?

Dengan strategi ini, cumi-cumi bisa terbang lebih dari 30 meter dalam waktu tiga detik.

Bagaimana Cara Cumi-Cumi Terbang?
Gambar :Cumi-cumi melontarkan dirinya ke udara.


(Lawson Parker, Staf NGM; Emily M. Eng, Sumber: Jun Yamamoto, Hokaido University)
Makhluk berotot, tanpa tulang, dan seperti torpedo ini bisa melontarkan diri ke depan dengan mengeluarkan air dari rongga mantel mereka. Kekuatan air dapat menggerakkan luncuran di bawah air atau, dalam beberapa famili Ommastrephidae, lontaran cepat ke permukaan samudra.
Menurut para peneliti asal Jepang, ketika cumi-cumi terbang di Pasifik Barat Laut, itu bukan sekadar lompatan yang terdorong oleh kekuatan jet. Begitu di atas, cumi-cumi memeras sisa air, merentangkan sirip yang seperti sayap dan lengan-lengan yang berselaput agar tetap di udara, dan secara aktif mengubah posisi untuk mengurangi tarikan dan tetap melayang.
Diperkirakan bahwa dengan strategi ini, cumi-cumi bisa terbang lebih dari 30 meter dalam waktu tiga detik—dan menghindari predator seperti tuna serta lumba-lumba—sebelum dengan mulus mencebur kembali ke dalam samudra.
(Sumber : Alison Fromme/National Geographic)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Rekayasa Genetika Mengatasi Spesies Penyerbu?

Para ilmuwan membuka diskusi publik mengenai perkembangan munculnya teknologi penggerak gen

Rekayasa Genetika Mengatasi Spesies Penyerbu? (1)
Foto: CDC/PHIL, Corbis

Nyamuk macan Asia telah berkembang pesat di seluruh dunia dari berbagai asal mereka di Asia Tenggara. Spesies ini menyebarkan banyak virus yang menimpa manusia, termasuk demam berdarah, demam Nil Barat dan radang otak Jepang.
Gen untuk memukul nyamuk harimau, menaklukkan ular pohon cokeat, dan mengusiri ikan mas Asia, semua spesies penyerbu jahat, terdengar seperti ide yang membengkak. Tapi gagasan terbaru dalam pemberantasan dengan rekayasa genetik rekayasaa menimbulkan risiko sendiri, para ahli bioteknologi memperingatkan.
Spesies penyerbu melampiaskan malapetaka di seluruh dunia, mengganggu ekosistem asli dan menimbulkan kerugian lebih dari  120 miliar dolar pada kerusakan setiap tahun di Amerika Serikat saja. Banyak spesies yang merusak secara ekonomi-dan lingkungan, seperti nyamuk, ular, dan ikan mas, menentang tahan menghadapi teknologi pembasmi yang ada kini.
Tapi ada kabar baik. Penggerak gen yang bisa memicu penurunan drastic spesies penyerbu  dengan mengutak-atik mekanika genetika ditemukan ketika teknologi lama jatuh tempo, seperti diumumkan tim ilmuwan internasional pada Kamis, 17 Juli 2014.
"Setelah spesies penyerbu tiba di habitat baru dan mendorong spesies asli punah, kita tidak perlu memiliki banyak jalan keluar untuk itu. Teknologi penggerak gen berpeluang menyebabkan kepunahan lokal spesies penyerbu, dan mengembalikan ekosistem asli, "kata Kevin Esvelt, ahli rekayasa genetika di Harvard University, dan mitra penulis makalah yang diterbitkan minggu ini dalam jurnal Science dan eLife.
Tapi dia dan rekan-rekannya memperingatkan, bahwa kita harus melangkah hati-hati; jika tidak, teknologi baru bisa meledak di wajah kita. "Kami ingin memastikan teknologi ini digunakan secara bertanggung jawab untuk memecahkan masalah yang dihadapi umat manusia dan alam," kata Esvelt.
(Katie Langin, nationalgeographic.com/CHR)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Berikut Temuan Terbaru Tentang Badai Matahari

Salah satu fakta terbaru tentang matahari ialah, suhu korona lebih tinggi dibanding permukaan matahari.

 

Foto: Badai Matahari (Thinkstockphoto)


Interface Region Imaging Spectrograph (IRIS) berhasil menemukan beberapa temuan terbaru tentang atmoster matahari atau korona. Bahwa suhu korona jauh lebih tinggi dibandingkan permukaan Matahari. Angin matahari adalah penyebab suhu di korona menjadi begitu tinggi.
Hasil ini memberikan informasi baru tentang pemahaman energi bintang yang dapat berpindah melalui atmosfer. Selain itu juga melacak aktivitas matahari yang dinamis dan berdampak pada Bumi.
“Temuan ini menunjukkan bahwa wilayah Matahari lebih rumit dari yang diperkirakan sebelumnya,” ujar Jeff Newmark.
Ia menambahkan bahwa hasil komparasi data IRIS dengan pengamatan misi lain memungkinkan terobosan pemahaman tentang Matahari dan interaksi dengan tata surya.
Penemuan pertama IRIS ialah kantung panas matahari mencapai 200.000 derajat Fahrenheit lebih rendah dari temuan pesawat luar angkasa sebelumnya. Ilmuwan menyebut kantung panas matahari dapat mengeluarkan energi dalam waktu singkat.
Peneliti pun menemukan bahwa bahan pembentuk bintik matahari untuk pertama kalinya. IRIS pun menemukan adanya resolusi yang membuat atmosfer matahari begitu aktif.
Yang paling mengejutkan dari temuan IRIS ialah tornado di matahari. Badai itu mampu bergerak dengan kecepatan 12 mil tiap detik di atas permukaan matahari.
Sumber angin tornado ini diperkirakan berasal dari pancaran angin matahari yang berasal dari lubang korona.
Penelitian ini menyoroti efek dari ledakan matahari disebabkan mekanisme yang disebut rekoneksi magnetik. Dimana garis medan magnet mampu mengirimkan partikel dengan kecepatan cahaya.
”Penelitian ini memberikan gambaran detail tentang keadaan di matahari yang belum pernah dilakukan sebelumnya,” kata De Pontieu, salah satu pemimpin IRIS di California. ”Hasil temuan ini menjawab pertanyaan yang selama ini membingungkan dan menawarkan beberapa kejutan jawaban,” tambahnya.

(Sumber: Science Daily)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Komet dan Sejarah Kehidupan di Bumi

Ketika tabrakan besar komet dan asteroid memusnahkan kehidupan pertama di Bumi, maka dalam waktu singkat kehidupan lain pun muncul.

Komet dan Sejarah Kehidupan di Bumi
Gambar 1 :  Impresi seniman atas pendaratan Rosetta di Komet 67P/Churyumov–Gerasimenko. Gambar ini tidak dalam skala. (Kredit: ESA/NASA)

Pernahkah terbersit pertanyaan-pertanyaan ini dalam benak kita? Dari mana kita berasal? Apakah kita sendirian di alam semesta? Inilah pertanyaan yang tak kunjung berhenti dilontarkan. Pertanyaan dan misteri inilah yang membawa manusia membangun mimpi menemukan kawan yang lain di alam semesta ini. Atau setidaknya menelusuri kembali jejak sejarah kehidupan manusia di Bumi.
Pertanyaan itu jugalah yang membawa manusia menelusuri kembali jejak masa lalu Tata Surya. Tujuannya satu: menelusuri dari mana kehidupan di Bumi berasal. Dari mana air yang menjadi kunci kehidupan di Bumi bisa hadir. Bagaimana Bumi bisa memiliki komposisi air yang sedemikian banyak sehingga mampu mempertahankan kehidupan?
Jawaban pertama, Bumi bisa memiliki air dalam wujud cair karena ia berada di zona laik huni Matahari. Tapi dari mana datangnya air itu? Berbagai teori dikemukakan, dan salah satunya adalah air di Bumi diyakini dibawa oleh komet.
Komet ISON hasil jepretan ...
Gambar 2 : Komet ISON hasil jepretan astrofotografer Adam Block.
Kehidupan di Bumi dimulai di akhir periode tabrakan besar, sekitar 3,8 milyar tahun yang lalu. Sebelum periode tabrakan tersebut, Bumi diserbu oleh puing-puing antarplanet yang menjadi materi pembentukan planet cikal bakal rumah manusia ini. Akibat dari serbuan puing-puing antar planet tersebut, proto-Bumi menjadi sangat panas sehingga tidak mungkin kehidupan bisa tebrnetuk di dalamnya. Disinilah, asteroid dan komet memainkan peran pentingnya.
Tabrakan besar dari asteroid dan komet mengubah jalannya sejarah Bumi dari planet yang sangat panas menjadi planet laik huni. Serbuan komet di masa awal pembentukan Bumi menjadi kunci kehadiran air di Bumi. Yup! Air dan molekul organik yang menjadi dasar bagi tumbuh kembang kehidupan di Bumi dihantarkan lewat serbuan komet-komet di masa itu.
Selama periode tabrakan besar asteroid dan komet, lautan yang ada di Bumi menguap dan molekul berbasis karbon yang jadi dasar kehidupan di Bumi kala itu sangat rapuh sehingga tidak dapat bertahan. Setelah itu, kehidupan awal yang mungkin terbentuk di Bumi pun musnah. Tapi di akhir periode tabrakan besar, kehidupan muncul! Buktinya adalah fosil paling tua yang ditemukan di Bumi usianya 3,5 miliar tahun. Fosil mikroba yang ditemukan di Australia tersebut diyakini menjadi bukti keberadaan awal kehidupan di Bumi yang kemudian berkembang dan berevolusi.
Tapi, bagaimana mungkin kehidupan awal Bumi yang rapuh itu berakhir ketika tabrakan besar terjadi, dan ada kehidupan baru yang muncul di akhir periode tabrakan besar? Artinya, dalam periode yang sangat singkat kehidupan bisa bertumbuh, berkembang dan bertahan di Bumi. Kehidupan yang kemudian berevolusi menjadi kehidupan kompleks di Bumi.
Sebelum periode tabrakan besar, Bumi hanya memliki sedikit air dan molekul berbasis karbon di permukaannya. Nah, bagaimana mungkin dalam waktu singkat bisa ada kehidupan baru? Jawabannya berada pada tabrakan besar itu sendiri.
Komet yang bertubi-tubi menghantam Bumi itulah yang menghantarkan air dan molekul organik untuk membentuk kehidupan. Artinya, komet disusun oleh air es, debu dan molekul organik yang berlimpah dari sisa pembentukan Tata Surya 4,6 milyar tahun lalu. Dan mereka tersimpan abadi di tepi luar Tata Surya yang jauh dari Matahari sehingga kondisinya cukup beku untuk terus bertahan apa adanya.

Di sebuah ruang bersih NASA, ...
Gambar 3: Di sebuah ruang bersih NASA, ilmuwan meneliti perangkap berisi debu yang ditangkap wahana Stardust saat terbang melewati komet Wild 2.Lebih lengkap mengenai penelitian debu komet ini dan hubungannya dengan awal semesta manusia dalam NGI Agustus 2013. (Mark Thiessen)
Jadi, ketika tabrakan besar komet dan asteroid memusnahkan kehidupan pertama di Bumi, maka dalam waktu singkat kehidupan lain pun muncul. Dan diyakini tabrakan komet 65 juta tahun lalu juga memusnahkan lebih dari 75% kehidupan di Bumi termasuk dinosaurus. Tabrakan itu menyisakan kehidupan yang dapat bertahan dan berevolusi menjadi seperti yang ada saat ini. Pada akhirnya, komet tampaknya memiliki dualisme yang menarik. Menghancurkan kehidupan tapi kemudian membangun kehidupan baru dan pada akhirnya hanya yang dapat beradaptasilah yang terus bertahan.
Komet memang menghadirkan air dan molekul kehidupan di Bumi. Tapi keberadaan Bumi juga membantu keberlangsungan evolusi kehidupan tersebut. Lokasi Bumi di zona laik huni Matahari yang hangat menjadi alasan lain kehidupan bisa terus bertahan dan berkembang. Tanpa itu, kehidupan akan mati menyisakan Bumi sebagai planet kosong tak berpenghuni. Jika Bumi terlalu panas, nasibnya mungkin tak beda jauh dengan Venus, atau mungkin jadi seperti Mars yang berada di tepi luar zona laik huni Matahari. Gersnag dan berdebu.

Ilustrasi komet.
Gambar 4 : Ilustrasi komet. (thinkstockphoto)
Untuk dapat mengetahui komposisi awal terbentuknya planet-planet maka para astronom pun mempelajari komposisi komet. Diharapkan, para astronom dapat menelusuri jejak masa lalu Bumi dan juga planet-planet di Tata Surya serta dapat mengetahui bagaimana kehidupan berawal. Dengan informasi inilah, para astronom akan mencari Bumi lain di sistem ekstrasolar yang sudah menghadirkan ribuan planet untuk ditelaah dan setidaknya ada sekitar 21 planet yang diyakini memiliki potensi kehidupan. Akankah kehidupan di planet-planet tersebut memiliki kemungkinan untuk bertumbuh dan berkembang dan akankah kehidupan itu pun berasal dari tabrakan komet di sistem masing-masing planet tersebut? Itulah pertanyaan yang masih harus ditelusuri jawabannya.
Komet, benda kecil yang berada jauh di tepi luar Tata Surya bahkan dianggap sebagai pertanda datangnya bencana bagi manusia di Bumi. Tapi, benda kecil yang isinya hanya es dan debu ini menyimpan bumbu dan bahan yang membentuk Tata Surya. Komet adalah saksi sejarah yang tak lekang oleh waktu. Meskipun bentuknya, warnanya tak tampak menarik, bahkan sulit untuk bisa diamati, namun benda kecil inilah kunci cerita tentang pembentukan planet-planet di Tata Surya dan juga di bintang lain.

Sumber : langitselatan.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ingin Tahu Bagaimana Pembentukan Tata Surya?

Kisah ini dimulai dari kelahiran bintang yang kita kenal dengan nama Matahari, 4,6 miliar tahun lalu.

Ingin Tahu Bagaimana Pembentukan Tata Surya?


Gambar 1 : Ilustrasi. (Thinkstockphoto)


Kisah ini dimulai dari kelahiran bintang yang kita kenal dengan nama Matahari, 4,6 miliar tahun lalu.
Sejak dahulu, di galaksi Bima Sakti terdapat banyak sekali awan molekul berukuran raksasa dengan massa 105 – 106 massa Matahari dengan awan molekul yang paling kecil berukuran 0,1 – 10 massa Matahari. Awan molekul ini didominasi oleh Hidrogen dan Helium dan diikuti unsur lainnya seperti Karbon, Nitrogen dan Silikat dengan jumlah yang sangat sedikit.
Pada awalnya awan molekul dalam kondisi yang stabil tapi bisa runtuh jika ada gangguan yang menyebabkan terjadinya ketidakstabilan.
Suatu hari, datanglah gelombang kejut dari ledakan mahadahsyat bintang yang ada di dekatnya. Akibatnya, partikel gas dan debu membentuk awan sferis yang rapat dan mampat. Awan pun mengalami keruntuhan, dimulai dari akumulasi materi ke inti. Semakin banyak materi yang ditarik ke inti, gravitasi pun semakin meningkat. Selama keruntuhan/pengerutan terjadi, inti berotasi semakin cepat dan temperatur pun meningkat.
Pada akhirnya inti memiliki energi yang cukup untuk memulai reaksi pembakaran hidrogen menjadi helium. Maka dimulailah reaksi nuklir yang melepaskan energi sangat besar. Inilah proses kelahiran bintang yang kita kenal sebagai Matahari dengan massa 99.8% dari massa awan.

Foto ini menampilkan Jupiter ...

Gambar 2 :Foto ini menampilkan Jupiter dan Ganymede, bulan terbesar di Tata Surya. Ganymede tiga kali lebih besar dari Bulan dan bahkan lebih besar dari planet Merkurius. (NAOJ/JAXA/Tohoku University)


Nah, bagaimana dengan pembentukan planet-planet? 
Tidak semua materi di awan molekul membentuk Matahari. Masih ada sisa debu dan gas yang membentuk piringan di sekeliling Matahari, sehingga kalau dilihat akan tampak seperti sebuah piringan dengan bola gas raksasa yang berpijar di tengahnya. Partikel-partikel yang ada di piringan diisi oleh 75% hidrogen, 25% helium, dan 2% elemen lainnya. Mereka bergerak dalam orbit lingkaran mengelilingi Matahari.
Meskipun temperatur di area inti meningkat tajam, akan tetapi semakin jauh dari inti temperatur pun semakin rendah. Karena itu, materi yang berada di area inti akan dengan mudah menguap, sedangkan gas di area yang jauh dan dingin akan tetap berada dalam kondisi gas.

Ilustrasi planet


Gambar 3 : Ilustrasi planet (Thinkstockphoto)


Materi di dalam piringan kemudian berkondensasi membentuk butiran padat maupun cair. Butiran yang terbentuk di dekat Matahari merupakan butiran padat termasuk di dalamnya senyawa alumunium, titanium, besi, nikel, dan silikat.
Di pinggiran piringan, temperatur cukup rendah sehingga molekul hidrogen berkondensasi membentuk es dari air es, metana beku, dan amonia beku. Perbedaan temperatur antara area di dekat bintang dan area yang jauh dari bintang menjadi kunci perbedaan dari planet yang nantinya terbentuk.
Partikel di dalam piringan saling berinteraksi dan bergabung membentuk butiran berukuran mikroskopik yang sangat kecil. Masa pembentukan planet adalah masa yang keras dan kejam. Bagaimana tidak! Butiran-butiran yang ada di piringan bergerak dan bertabrakan dengan butiran lainnya. Hasilnya butiran-butiran tersebut kemudian bergabung membentuk partikel yang lebih besar dan lebih padat. Tabrakan antar partikel terus terjadi dan partikel-partikel kemudian membentuk planet kecil atau planetesimal.
Proses penggabungan ini terus terjadi dan planetesimal terus bertumbuh semakin besar yang kemudian dikenal sebagai protoplanet aka cikal bakal planet. Protoplanet dalam interaksinya menarik planetesimal dengan komposisi yang mirip untuk bergabung dan membentuk planet.
Karena semakin jauh temperaturs semakin rendah, maka di dekat Matahari, planetesimal yang terbentuk berupa batuan dan logam karena gas sudah pasti menguap. Dan terbentuklah planet batuan seperti Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars.
Semakin jauh, selain dari batu dan logam, planetesimal juga terbentuk dari serpihan es. Interaksi antara planetesimal yang disusun oleh batu, logam dan serpihan es dengan planetesimal lain membentuk inti planet raksasa. Inti yang terbentuk sangat besar dan mampu menangkap gas hidrogen dan helium untuk membentuk atmosfer yang sangat tebal. Pada akhirnya terbentuklah planet raksasa yang kaya hidrogen dan helium dengan inti batuan yang mampat.
Kalau kita menjelajah semakin jauh ke bagia luar piringan, maka kondisinya pun semakin dingin. Sangat dingin karena temperatur semakin rendah. Di area terluar nan dingin itu, masih ada planetesimal es yang tetap bertahan dan membentuk benda-benda kecil berukuran beberapa kilometer. Benda-benda kecil tersebut dikenal sebagai benda di Sabuk Kuiper. Beberapa obyek di sabuk Kuiper memiliki ukuran cukup besar seperti Pluto, Makemake, Sedna, Eris yang kemudian digolongkan sebagai planet kerdil karena tidak mampu "membersihkan" area di sekelilingnya dari planetesimal lainnya. Jadi kalau obyek-obyek ini merupakan sebuah planet, maka gravitasinya cukup untuk menarik obyek lain di sekelilingnya untuk bergabung atau melontarkannya ke luar Tata Surya.
Sementara itu, area di antara Mars dan Jupiter diisi oleh benda-benda kecil lainnya yang dikenal sebagai sabuk asteroid. Di area ini, kumpulan planetesimal batuan berukuran beberapa meter sampai dengan 1000 km bergerak mengelilingi Matahari. Planetesimal di area ini merupakan sisa pembentukan Tata Surya yang tidak berhasil berkoalisi membentuk planet karena gangguan gravitasi dari Jupiter.

Europa ketahuan menyemburkan ...

 Gambar 4 : Europa ketahuan menyemburkan uap air mencapai ketinggian lebih dari Everest. (Southwest Research Institute)


Satelit Alam dan Cincin Planet Raksasa
Planet-planet di Tata Surya diketahui memiliki pengiring atau satelit alam. Untuk planet raksasa, satelit alam diyakini terbentuk lewat proses hampir serupa dengan kelahiran planet. Pada masa awal pembentukan planet raksasa, terdapat sejumlah besar gas di sekeliling planet yang kemudian berinteraksi membentuk satelit-satelit di sekeliling sang planet.
Untuk Mars, satelit pengiringnya terbentuk di tempat lain dan kemudian ditangkap oleh Mars untuk mengitarinya. Sedangkan pengiring Bumi, Bulan, terbentuk lewat tabrakan Bumi dengan sebuah benda yang diduga sebesar Mars dan kemudian sisa tabrakan itulah yang menjadi Bulan yang mengelilingi Bumi. Sementara planet terdekat dengan Matahari yakni Merkurius dan Venus tidak memiliki satelit, karena jika ada satlit di sana maka satelit itu tidak dapat bertahan.

Diambil dengan WAC (Wide Angle ...

Gambar 5 : Diambil dengan WAC (Wide Angle Camera) dari Mercury Dual Imaging System pada pesawat Messenger yang mengorbit Merkurius, Selasa (24/5), foto hitam-putih ini menampilkan belahan Merkurius sebelah selatan. Tidak seperti Bumi, Merkurius memiliki kemiringan aksial hanya 0,02 derajat, terkecil di seluruh Tata Surya. Hasilnya, tidak ada musim di Merkurius. (NASA/Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory/Carnegi)

Dalam proses pembentukan seluruh planet di Tata Surya, ketika planet raksasa sudah terbentuk, maka planetesimal yang bergerak dekat dengan planet akan dikoyakkan oleh gravitasi dan pecahan-pecahannya kemudian terperangkap mengorbit planet raksasa sebagai cincin. Sejauh ini demikianlah yang kita pahami tentang sejarah Tata Surya tempat tinggal kita. Penemuan-penemuan detil-detil lain di Tata Surya maupun di sistem keplanetan lain akan semakin memperkaya pemahaman kita.

Sumber : Pengembara Angkasa/langitselatan.com

 


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Layar Semesta Bertabur Meteor Geminids

Rasi bintang Gemini menggelar pertunjukan agung di setiap Desember. Apakah Anda salah seorang yang beruntung menyaksikannya?

Layar Semesta Bertabur Meteor Geminids
Gambar 1 : Hujan meteor Geminids di Belahan Bumi Utara pada Desember 2013. (Asim Patel/Wikimedia Commons)
Sosok bulat telur berwarna putih cemerlang dengan pendaran hijau melesat bersama ekornya yang panjang. Pendaran cahaya itu berlipat kali lebih besar dan lebih terang dari kerlip bintang, atau kedip lampu pesawat terbang.
Dia menukik di tabir cakrawala timur, hanya selama dua-tiga detik, lalu lenyap begitu saja bak tenggelam di kegelapan malam. Seketika saya terjelengar dan takjub.
Langit Jakarta dan sekitarnya sungguh cerah berserak bintang kemintang pada Minggu malam, 14 Desember. Saya sengaja menanti kemunculan sosok cahaya berekor itu dari sehamparan tempat lapang di sudut Tangerang Selatan, pada pukul 22.31 WIB.
Fenomena ini merupakan bagian dari derasnya hujan meteor Geminids yang menerjang atmosfer Bumi sekitar 4 hingga 17 Desember 2014. Dan, 14 Desember merupakan puncaknya.
Geminids merupakan hujan meteor yang terjadi karena orbit Bumi melewati serpihan asteroid 3200 Phaethon. Kecepatannya meteor itu mencapai 35 kilometer perdetik. Peristiwa akhir tahunan ini baru terungkap pada 1862.
Dalam satu jam saja, Bumi bisa dihujani hingga seratusan meteor yang menjadikannya pertunjukan teragung jelang tutup tahun.
Dalam tabir peta langit, lokasinya di sekitar rasi bintang Gemini yang terdiri atas 48 bintang yang membentuk sosok manusia kembar yang ditemukan oleh Ptolomaeus pada abad ke-2. Gemini terbit sekitar pukul 21.00 dan bergerak ke arah barat seiring mendekatnya pagi hari—saya pun dalam pengamatan ini merasa terberkahi lantaran berzodiak Gemini!
Dalam satu jam saja, Bumi bisa dihujani hingga seratusan meteor yang menjadikannya pertunjukan teragung jelang tutup tahun. Biasanya meteor akan habis terbakar sebelum sampai Bumi. Hanya sebagian kasus saja yang mencapai permukaan Bumi—disebut meteorit—atau menimbulkan bencana besar seperti di Rusia pada awal 2013.

Gambar 2: "Gemini" dalam Urania's Mirror karya Sidney Hall 1825. (United States Library of Congress's Prints and Photographs division/Wikimedia Commons)
Peristiwa alam semesta ini bisa disaksikan dengan mata telanjang sehingga menyatukan warga seantero jagad.  Seorang perempuan muda asal Okinawa yang kini tinggal di Kyoto, Jepang, mengungkapkan ketakjuban kala menyaksikan hujan meteor tersebut dalam akun twitternya @Ikumizura. Dia menyaksikan hujan meteor ini selama tiga jam, dari pukul sebelas hingga satu malam waktu setempat.
“Ini adalah pertama kali buat saya! Salah satu hujan meteor paling cemerlang, itulah mengapa saya begitu heboh.” Beberapa saat berselang, kemudian dia melanjutkan, “Saya sudah menyaksikannya... Kini benar-benar mengantuk. Namun, 10 bintang beralih untuk 10 harapan adalah lebih dari  apa yang saya perkirakan.”
“Yupp warnanya kehijauan,” ungkapnya menanggapi kicauan saya tentang hasil pengamatan di Tangeran Selatan. “Meskipun cukup bikin pegal leher, itu hal yang sungguh mengesankan!”
“Ini adalah pertama kali buat saya! Salah satu hujan meteor paling cemerlang, itulah mengapa saya begitu heboh.”
Anggapan bahwa sebagian unsur yang menyusun tubuh kita berasal dari gugusan bintang di alam semesta itu barangkali benar adanya. Hampir seluruh warga Bumi pun mewarisi pesan leluhur mereka: Jika melihat bintang beralih segeralah sampaikan keinginan atau cita-cita, kelak semuanya akan terkabul!
Malam itu ketika semua orang tidur lelap dalam senyap, Bumi melaju menembus bongkahan batu-batu luar angkasa. Lapisan atmosfer telah melindungi kehidupan di Bumi dari serangan meteor sehingga semua orang tetap tidur nyenyak. Setiap pertunjukan selalu memberikan pesan kepada pemirsanya. Dan, malam itu Sang Dalang menyadarkan betapa kecil dan tak berartinya kita dalam kerumitan jagad raya ini.
Saya pun terharu akan pesan Albert Einstein, “Apa yang saya saksikan di alam adalah sebuah tatanan agung yang tidak dapat kita pahami seluruhnya, dan hal itu sudah sepantasnya membuat orang senantiasa rendah diri.”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kotoran Kambing, Solusi Pengganti LPG

Rencana Pemerintah menaikan harga LPG tak membuat risau, selama kotoran kambing dijadikan pengganti energi.

Kotoran Kambing, Solusi Pengganti LPG
Gambar 1 : Suharyanto (kiri), peternak kambing di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, memeriksa reaktor biogas yang sekaligus dijadikan sarana pengolahan pupuk organik (VOA/ Nurhadi)
Pemerintah berencana untuk menaikkan secara berkala harga gas LPG 12 kilogram hingga mencapai harga keekonomian agar Pertamina tidak terus merugi.
Mayoritas masyarakat akan resah begitu mendengar pengumuman bahwa pemerintah akan menaikkan harga gas LPG.
Persoalannya, mereka kini tidak lagi menggunakan kayu bakar ataupun minyak tanah ketika memasak. Sehingga ketergantungan kepada LPG menjadi sangat besar. Bukan hanya kenaikan harga, kadangkala persoalan ditambah dengan minimnya pasokan di pasar.
Namun, ada sejumlah warga masyarakat yang tidak peduli berapapun kenaikan harga LPG dan apakah tersedia di warung dekat rumah atau tidak. Salah satunya adalah Suharyanto, peternak kambing di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Dia kini tidak lagi membutuhkan LPG produk Pertamina, karena telah memiliki reaktor biogas yang mengubah kotoran kambing miliknya menjadi gas untuk kebutuhan dapur rumahnya.
"Kambing ini saya yakini kandungan gas metannya lebih tinggi. Akhirnya saya mencoba mengusulkan pada rapat kelompok itu, bagaimana kalau kita membuat biogas dari limbah kambing. Akhirnya teman-teman setuju, dan akhirnya kita buat. Bahkan sebetulnya bisa dimaksimalkan untuk dua sampai tiga rumah itu reaktor saya yang berkapasitas enam kubik," kata Suharyanto.
Sebelum memiliki reaktor biogas ini, biasanya Suharyanto membutuhkan empat tabung gas tiga kilogram setiap bulannya. Kini dia memenuhi kebutuhan gas itu secara gratis. Sejumlah tetangga yang juga memiliki kambing dan tergabung dalam kelompok peternak kambing Perkasa, mengikuti langkah Suharyanto. Menurutnya, selain gas, mereka juga memperoleh manfaat lain berupa pupuk organik siap pakai, untuk kebutuhan tanaman pangan mereka di sawah.
Ia menambahkan, "Saya bisa mengatakan begini, orang kalau memiliki ternak kalau tidak punya biogas, dia rugi sekali. Sebenarnya semuanya bisa saling berkaitan, antara peternakan, pertanian bahkan perikanan pun bisa. Karena limbah dari biogas ini sangat bagus juga untuk kita bikin pelet dan pestisida organik."
Program biogas rumah tangga ini dilaksanakan oleh organisasi nirlaba, Hivos. Sejak tahun 2009, organisasi ini telah membangun 12.600 reaktor biogas rumah tangga di 9 provinsi di Indonesia.
Dipaparkan Agi Cakradirana dari Hivos, peternak tidak memperoleh reaktor secara gratis. Hivos memberikan diskon 2 juta rupiah untuk kebutuhan membangun reaktor, yang dalam skala kecil membutuhkan dana 7 juta rupiah.
Pendampingan juga diberikan secara intensif, agar manfaat biogas benar-benar bisa dirasakan oleh masyarakat.
"Kalau kita lihat berdasarkan studi yang sudah kita lakukan, di Indonesia sebenarnya potensinya banyak sekali, bisa sampai satu juta pengguna, atau satu juta rumah tangga yang memanfaatkan biogas. Karena jumlah ternaknya banyak sekali, kemudian jumlah petaninya juga banyak dan tersebar di berbagai daerah. Jadi, ambisi kami, tahun ini misalnya harus mencapai 14.000 sampai 15.000, kemudian tahun depan tambah lagi sekitar 2.000 atau 3.000, dan seterusnya," ujar Agi Cakradirana.
Biogas semacam ini sangat tepat diterapkan bagi masyarakat petani atau peternak, asal mereka memiliki hewan ternak baik itu sapi ataupun kambing. Kekurangannya adalah karena tidak praktis dan membutuhkan investasi awal cukup besar bagi pemilik ternak.
Namun, potensinya luar biasa untuk mengurangi beban pemerintah dalam penyediaan gas, khususnya untuk kebutuhan rumah tangga.

Sumber :www.voaindonesia.com

 


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS